Rabu, 29 September 2010

Ada Laut di Bawah Laut

Gua-gua lepas pantai, yang biasa disebut sebagai lubang-lubang biru samudra, merupakan perpanjangan dari laut, takluk pada gulungan ombak dahsyat yang sama dan merupakan rumah bagi banyak spesies yang sama di perairan sekitarnya. Namun, lubang biru di daratan tidak seperti lingkungan mana pun di Bumi, sebagian besar dikarenakan kandungan zat kimia dalam air dan kondisi geologinya. Dalam gua-gua yang terbanjiri ini, seperti Stargate di Pulau Andros, jarangnya arus pasang surut menyebabkan perbedaan lapisan kimia airnya cukup tajam. Lensa tipis air tawar—dipasok oleh curah hujan—mengambang di atas lapisan air asin yang lebih padat. Lensa air tawar itu bertindak sebagai penutup, mengisolasi air asin dari oksigen di atmosfer dan menghambat bakteri yang menyebabkan pembusukan zat organik. Bakteri yang berada tepat di bawah air tawar bertahan hidup dengan memproses sulfat (salah satu garam di air) menjadi energi, menghasilkan hidrogen sulfida sebagai produk sampingan. Di daratan, gas itu sering timbul di rawa dan di saluran pembuangan kotoran; hidrogen sulfida dalam dosis tinggi dapat menyebabkan delirium (penurunan kesadaran) serta kematian.





Sebagai laboratorium hidup, lubang-lubang biru di daratan itu secara ilmiah dapat disetarakan dengan makam Firaun Tut. Dari sudut pandang seorang penyelam, lubang-lubang biru tersebut sama menantangnya dengan Everest atau K2; membutuhkan pengalaman, perlengkapan, serta latihan yang sangat khusus. Bahkan melebihi pendaki-pendaki gunung yang tinggi menjulang, para penyelam gua beraksi di bawah tekanan waktu yang luar biasa besar. Saat sesuatu menjadi tidak beres, ditambah jika mereka tidak bisa mengatasi masalah tersebut dan segera kembali ke permukaan sebelum pasokan oksigennya habis, tamat riwayat mereka.



Sampai saat ini, hanya sedikit ilmuwan yang pernah menjelajahi lubang-lubang biru, namun pada musim panas dan musim gugur 2009, tim ilmiah dan penyelam gua multidisipliner menghabiskan waktu dua bulan untuk mempelajari lubang-lubang di Andros, Abaco, serta lima pulau lain di Bahama. Ekspedisi tersebut didanai National Geographic Society yang berkolaborasi dengan Museum Nasional Bahama, dipimpin Keith Tinker, Bahamas Blue Hole Expedition (Ekspedisi Lubang Biru Bahama) dan digagas Kenny Broad, seorang penjelajah gua kawakan yang juga merupakan antropolog di Universitas Miami. Bersama Broad yang menyenangkan, kepemimpinan yang energik dan berdedikasi, dan Brian Kakuk sebagai petugas keamanan penyelaman serta hasil foto dan film penjelajah gua yang unggul dari Wes Skiles, sekitar seratus lima puluh penyelam melakukan penjelajahan di puluhan lubang biru. Mereka mengumpulkan data yang menjanjikan dapat memperdalam pemahaman kita mulai dari geologi dan kimia air, sampai biologi, paleontologi, arkeologi, dan bahkan astrobiologi—ilmu tentang kehidupan di alam semesta.


Warna orange tersebut adalah hidrogensulfida

Mereka bekerja dengan cepat. Dengan tingginya tingkat kenaikan air laut akhir-akhir ini (kemungkinan akan lebih tinggi satu meter pada abad berikutnya), banyak gua di daratan akan dibanjiri air asin dalam dekade mendatang, mengganggu kandungan kimianya yang rentan dan menghancurkan kondisi saat ini yang menjadikan lubang-lubang tersebut berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Sementara itu, lubang biru sering digunakan sebagai pembuangan sampah, sehingga mengotori sumber-sumber air bersih utama di pulau-pulau tersebut. "Lihat kerusakan yang telah kita perbuat terhadap sumber daya yang indah dan sangat ‘kasatmata’, seperti redwood, paus, batu karang, " Broad berkata. Terlepas dari arti pentingnya, ia menjelaskan, ketakkasatmataan membuat dunia bahwa tanah diletakkan dalam prioritas terendah dalam daftar upaya konservasi. Karenanya ekspedisi itu juga berupaya untuk memperkenalkan kepada khalayak mengenai pentingnya lubang-lubang biru dan ancaman-ancaman yang dihadapi tempat semacam itu.

Artikel ini saya dapat dari http://nationalgeographic.co.id/featurepage/168/rahasia-gelap-di-kedalaman/2

0 komentar:

Poskan Komentar